Minggu Sore dan PR Matematika

Masih teringat dengan jelas waktu itu Minggu sore saya mengerjakan tugas PR Matematika bersama kakak saya. Sengaja minta ditemani olehnya karena tugas tersebut memang cukup ribet juga. Kemudian ia menyalakan radio karena menurut pendapatnya lebih enak lagi kalo mengerjakan sesuatu itu sambil mendengarkan musik. Saya yang memang sebelumnya merasa ruwet oleh tugas Matematika ditambah suara dari radio tersebut justru malah semakin kusut ga bisa konsentrasi karena musik yang dipancarkan dari radio tersebut benar-benar berisik. Hingga akhirnya tugas tersebut saya serahkan sepenuhnya pada kakak saya. Sambil menunggu, saya tiduran sementara telinga ini mau tidak mau “terpaksa melahap” setiap lagu yang semakin sore lagu-lagunya terasa semakin kencang.


Saya : “Zal, ieu radio naon? Asa ku garandeng kieu lagu-lagu na teh.”
Kakak saya : “Ji em ar”
Radio : “…………… naw yu listening tu wan of for poin for.. ef em.. ji em ar.. rrrredio.. ...................bandong..!!!!

Menit demi menit terus berlalu, ia tampak asyik sekali mengerjakan PR saya, sementara saya malah terbengong-bengong takjub sekaligus penasaran dengan musik yang dipancarkan dari Radio GMR yang bermarkas di Bandung tersebut.

Anjirr.. ni gimana main musiknya ya? Suara gitar yang menderu layaknya mesin gerinda, bass persis gelombang badai, drum yang dihajar tanpa tedeng aling-aling, ditambah suara vokal yang mirip orang lagi muntah. Ngeri, ugal-ugalan, dan tidak wajar. Namun dibalik ketidakwarasan semua itu kalo disimak secara betul-betul kok terasa enak juga, alur nada dan iramanya cepat tapi hubungan antar instrument kok ga kemana-mana kesannya kompak gitu. Sepertinya dibutuhkan tenaga ekstra, konsentrasi ekstra, kekompakan ekstra, pokoknya serba ekstra lah, untuk memainkan jenis musik ini sehingga efek yang muncul adalah hasil yang benar-benar maksimal.
Suffocation, Cannibal Corpse, Napalm Death, Monstrosity, Morbid Angel, Deicide, Carcass, adalah nama-nama yang sempat saya ingat di waktu sore tersebut.

Saat itulah kurang lebih 16 tahun yang lalu untuk pertama kalinya dalam hidup saya telinga ini terkontaminasi oleh cadasnya musik Death Metal, dan saya langsung menyukainya.
Hingga detik ini.

Sebenarnya sih musik Rock ga asing-asing amat bagi saya karena hampir semua kakak saya (4 orang, lelaki semua) tepatnya yang 3 orang termasuk pencinta musik brangbrengbrong tersebut. Saya tekankan sekali lagi pencinta karena mereka semua mengoleksi album-album dari band-band yang muncul sejak 60-an hingga sekarang entah itu Blues, Rock N Roll, Hard Rock maupun Heavy Metal. Baik lokal maupun luar.
Jadi yang namanya Rolling Stones, Yardbirds, Janis Joplin, Nazareth, CCR, BB King, Jimi Hendrix, Judas Priest, AKA, Deddy Stanzah atau Super Kids, God Bless, dan sebangsanya sudah akrab ditelinga ini sejak saya SD.
Tapi musik mereka tidak membuat saya tertarik dan takjub, tidak membuat saya jatuh hati. Mungkin karena musiknya ga “se-aneh” atau se-berisik Death Metal kali ya, jadi kesannya “menurut telinga ini” biasa saja.

Semenjak kejadian Minggu sore yang ajaib tersebut saya jadi mempunyai semacam penambahan-penambahan perasaan tertentu yang sebelumnya tidak pernah saya miliki (entahlah bingung juga nyebutnya kalimat apa yang yang paling tepat). Yang jelas saya jadi tertarik sama yang namanya musik dan itu tidak sebatas Death Metal saja walaupun tetap yang menjadi prioritas adalah Death Metal. Tertarik disini tuh dalam artian jika saya menyukai lagu dari band tertentu maka dalam hati ini timbul rasa ingin memiliki albumnya, merchandise-nya dan segala sesuatu yang berhubungan dengan band tersebut entah itu sejarah si band, gambar/poster, serta ingin melihat secara langsung di acara-acara konser.


Hobi saya jadi bertambah, setelah pulang sekolah terus main, kalau jam sudah menunjukan sekitar angka 4 maka saya pasti pulang untuk mendengarkan radio. Kalau lagi musim layangan (saya suka banget main layangan) saya suka menuliskan nama-nama band di layangan tersebut hingga kelihatannya ga karuan karena layangan tersebut penuh dengan nama-nama band Death Metal yang saya tahu.

Kalau teman-teman sekolah saya sampul bukunya poto-kopian band-band kayak Guns N Roses, Mr. Big, Bon Jovi, Nirvana, maka buku saya tampil dengan poto-kopian Sepultura, Slayer, Morbid Angel, Gorguts, Obituary, Dismember. Begitu pun dengan seragam sekolah di bagian bawah belakang, hampir semua teman cowok satu sekolah menuliskan logo band Rock mainstream favoritnya di bagian tersebut, termasuk saya ga mau kalah dengan menampilkan logo Carcass.

Perbendaharaan hobi saya semakin terus bertambah , salah satunya adalah menabung. Ya, memasukan sebagian uang jajan sekolah ke dalam celengan kaleng bekas, dan sebulan sekali celengan tersebut dibongkar untuk dibelikan kaset band favorit saya. Namun sialnya kaset-kaset yang saya cari di Cipanas itu susah banget. Jangan harap ada Suffocation, Cannibal Corpse, Deicide terpampang di etalase toko kaset di sini. Solusinya saya nyari ke kota lain, Cianjur, Bogor, Bandung dan Jakarta adalah kota-kota yang hampir tiap satu bulan sekali saya datangi.
Kalau di Cipanas paling banter cuma Sepultura doang yang ada, dan album Morbid Visions adalah kaset metal bin berisik pertama yang saya miliki.


0 Response to "Minggu Sore dan PR Matematika"

Post a Comment

Iklan Tengah Artikel 2